Senin, 15 September 2008

SP Maria dari Kibeho

Alphonsine Mumureke Anathalie Mukamazimpaka Marie Claire Mukangango


Penampakan Pertama

Para Visioner

Penampakan-Penampakan Berikut

Perjalanan Mistik

Nubuat dan Peringatan

Pesan-Pesan Bunda Maria

Persetujuan Resmi Gereja


Rwanda adalah sebuah negeri kecil di bagian tengah Afrika; negeri dengan sederetan pegunungan sehingga sering disebut sebagai Swiss Afrika. Penduduknya berjumlah sekitar 5,5 juta jiwa; separuh dari antara mereka adalah Katolik. Ada dua suku besar di Rwanda: suku Hutu dan suku Tutsi, yang saling bersitegang satu sama lain bertahun-tahun lamanya. Kota Kibeho terletak di bagian selatan negeri yang elok ini; wilayah termiskin di Rwanda.

Sepanjang tahun 1980-1981, kebrobokan merajalela di seluruh negeri. Hampir semua patung-patung Bunda Maria yang ada di pintu-pintu masuk desa dikudungi, dirusakkan, atau dicuri. Suatu masa yang menyedihkan ketika Bunda Maria nyaris dilupakan dan orang tak lagi datang mohon bantuan doanya. Bahkan sebagian imam tak lagi berdoa rosasio, sebab terpengaruh oleh propaganda teolog-teolog sesat yang hendak meyakinkan kita bahwa devosi yang demikian sudah ketinggalan jaman. Umat Katolik dihinakan; kaum klerus mulai menyerah. Pada masa keputusasaan seperti inilah Bunda Maria memilih untuk mengunjungi Rwanda. Penampakan Bunda sang Sabda dimulai pada tanggal 28 November 1981 dan berakhir pada tanggal 28 November 1989.

Penampakan Pertama

Alphonsine Mumureke, 16 tahun (1965), berasal dari sebuah kelurga Katolik yang miskin, adalah seorang siswi di sebuah sekolah biara yang dikelola oleh para biarawati. Selain amat saleh dan senantiasa menunjukkan kasih yang besar kepada Bunda Allah, ia juga biasa ikut ambil bagian dalam Misa Kudus. Berikut kisah penampakan pertama seperti yang diceritakan sendiri oleh Alphonsine:

“Peristiwa itu terjadi pada hari Sabtu, tanggal 28 November 1981, pukul 12:35 siang. Aku sedang berada di kamar makan sekolah, melayani teman-teman sekelas. Sekonyong-konyong, aku mendengar suara yang memanggilku.”

“Puteriku.”

“Aku di sini.”

“Aku pergi ke lorong, dan melihat seorang perempuan yang amat cantik jelita. Aku berlutut, membuat Tanda Salib dan bertanya, `Siapakah engkau?'”

“Ndi Nyina Wa Jambo (dalam bahasa setempat, yang artinya, “Aku adalah Bunda sang Sabda”). Dalam agama, apakah yang engkau sukai?”

“Aku mengasihi Tuhan dan BundaNya, yang memberi kami Kanak-kanak yang menebus kami.”

“Jika demikian, aku telah datang untuk menenangkanmu, sebab aku telah mendengar doa-doamu. Aku menghendaki teman-temanmu memiliki iman, sebab kepercayaan mereka kurang kuat.”

“Bunda sang Juruselamat, jika sungguh engkau itu yang telah datang untuk memberitahukan kepada kami bahwa di sini, di sekolah ini, iman kami lemah, maka engkau sungguh mengasihi kami. Aku sungguh dipenuhi sukacita bahwa engkau menampakkan diri kepadaku.”

Bunda Maria kemudian meminta Alphonsine untuk bergabung dengan Legio Maria dan mengatakan bahwa ia ingin dikasihi dan dipercayai sebagai seorang ibunda, agar ia dapat menghantar kita kepada Putranya, Yesus.

Ketika ditanyakan kepadanya mengenai penampilan fisik Bunda Maria, Alphonsine menjawab, “Santa Perawan tidak berkulit putih seperti ia biasa digambarkan dalam gambar-gambar kudus. Aku tak dapat menentukan warna kulitnya, tetapi ia sungguh cantik tak terperi. Ia bertelanjang kaki dan mengenakan gaun putih tak berjahit, juga sebuah kerudung putih di atas kepalanya. Kedua tangannya dikatupkan di dada dengan jari-jemarinya mengarah ke langit. Sesudahnya, aku diberitahu bahwa aku sedang berada di kamar makan. Teman-teman sekelas mengatakan bahwa aku berbicara dalam beberapa bahasa: Perancis, Inggris, Kinyarwanda, dsbnya.”

“Ketika Santa Perawan hendak pergi, aku mendaraskan tiga `Salam Maria' dan doa `Datanglah Roh Kudus'. Ketika ia pergi, aku melihatnya naik ke surga seperti Yesus.”

Di akhir penampakan, Alphonsine jatuh ke tanah dan tak bergerak hingga seperempat jam lamanya, seolah ia lumpuh; segala usaha untuk membangunkannya dari ekstasi sia-sia belaka. Tak seorang guru maupun biarawati yang percaya akan apa yang diceritakan Alphonsine. Mereka menganggapnya sakit.

Fenomena yang sama terjadi lagi keesokan harinya, 29 November 1981. Pada bulan Desember, penampakan terjadi hampir setiap hari Sabtu. Didorong oleh rasa keingintahuan yang besar, para murid dan guru berusaha mencoba menguji realita ekstasi. Mereka menyulut tubuh Alphonsine dengan korek api, atau menusuknya dengan peniti, tetapi ia tidak bereaksi. Alphonsine banyak menderita. Mereka mengolok-oloknya, “Ini dia, si penglihat datang!” Dalam penampakan tanggal 8 Mei 1982, Alphonsine mengeluh kepada Bunda Maria, “Orang banyak mengatakan bahwa kita gila.”

Sementara itu, sebagian murid datang membawa rosario agar diberkati oleh Santa Perawan. Semua rosario dikumpulkan dan dicampur menjadi satu, hingga tak mungkin bagi Alphonsine untuk mengenali pemilik masing-masing. Ketika Alphonsine mengambil rosario dan menyerahkannya kepada Bunda Maria, sebagian rosario menjadi begitu berat hingga Alphonsine tak mampu mengangkatnya dan memintakan berkat. Sesudahnya, barulah orang tahu bahwa rosario yang demikian adalah milik murid-murid yang tidak percaya akan penampakan dan yang memperoloknya.

Para Visioner

Karena kuatnya pertentangan antara yang percaya dan yang tidak, sebagian guru dan murid mengatakan, “Kami percaya akan kedatangan Bunda Maria, Bunda Allah, ke sekolah kita, hanya jika ia menampakkan diri juga kepada yang lain selain Alphonsine.” Yang ditanggapi Alphonsine dengan, “Berdoalah agar kalian mendapatkan rahmat itu.”

Pada tangal 12 Januari 1982, Bunda Maria mengabulkan doa mereka dan menampakkan diri kepada Anathalie Mukamazimpaka (1965), berasal dari sebuah keluarga Katolik, seorang anggota Legio Maria. Pesan-pesan yang disampaikan Bunda Maria kepadanya, yang berakhir pada tanggal 3 Desember 1983, berpusat pada doa dari hati, matiraga, penyerahan diri kepada Tuhan, dan kerendahan hati. Begitu Anathalie juga mendapatkan penampakan, sebagian besar komunitas menerima penampakan Bunda Maria sebagai kebenaran.

Pada tanggal 2 Maret 1982, semua orang dibuat tercengang-cengang ketika Bunda Maria menampakkan diri pula kepada Marie Claire Mukangango (1961), sebab ia adalah seorang dari mereka yang paling menunjukkan ketidakpercayaannya. Kehidupan Kristianinya tidak istimewa, bahkan jauh dari teladan! Ia mengalami masalah dalam disiplin dan harus satu tahun tinggal kelas. Ia memperolok Alphonsine sebagai “si tolol”. Dan sekarang, gilirannyalah dikuasai oleh kuasa adikodrati. Sejak saat itu, Marie Claire tak hentinya menasehatkan kepada orang banyak, “Kita patut merenungkan sengsara Yesus dan dukacita mendalam BundaNya. Hendaknyalah kita mendaraskan rosario setiap hari, dan juga Rosario Tujuh Duka SP Maria, demi mendapatkan rahmat tobat.” Penampakan Bunda Maria kepada Marie Claire berlangsung enam bulan lamanya dan berakhir pada Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita, tanggal 15 September 1982.

Selain ketiga siswi di atas, ada empat orang lainnya yang menyatakan diri mendapatkan penampakan Bunda Maria juga. Mereka adalah: Stephanie Mukamurenzi (1968); Agnes Kamagaju (1960); Segatashya (1967), seorang anak laki-laki kafir yang kemudian mendapat nama kristen Emanuel; Vestine Salima (1960), seorang wanita muslim. Namun demikian, hingga kini hanya tiga orang saja yang diakui secara resmi oleh Gereja, yaitu: Alphonsine Mumureke, Anathalie Mukamazimpaka dan Marie Claire Mukangango.

Penampakan-Penampakan Berikut

Penampakan pertama pada tanggal 28 November 1981 terjadi siang hari di kamar makan sekolah; hari berikutnya penampakan terjadi sore hari di asrama, di kamar visioner hingga tanggal 16 Januari 1982. Sesudah itu, penampakan biasa terjadi di asrama para murid atau di kapel. Di sanalah para murid datang untuk berdoa sore hari dan merupakan saat yang disukai Bunda Maria untuk datang mengunjungi mereka. Para murid ada di sana selama penampakan; seringkali pembicaraan dengan Bunda Maria adalah mengenai kehidupan sekolah. Bunda Maria memberikan nasehat, membesarkan hati, berbicara demi menghantar mereka di jalan yang benar. Bunda Maria adalah sungguh seorang ibunda yang , dengan kasih keibuannya, mendidik putera-puterinya. Penampakan-penampakan ini dianggap privat dan masyarakat umum tidak diperkenankan ikut.

Namun demikian, masyarakat umum dapat ikut ambil bagian dalam penampakan yang juga terjadi di halaman sekolah. Di sana berlangsung pembicaraan antara visioner dengan Bunda Maria. Semua yang hadir dapat mendengar kata-kata yang diucapkan visioner, namun tentu saja, mereka tak dapat mendengarkan perkataan Santa Perawan Maria.

Segera saja orang berbondong-bondong datang dari segenap penjuru negeri. Guna mengakomodasi orang banyak itu, sebuah podium yang diperlengkapi dengan pengeras suara didirikan di halaman biara. Dengan demikian, para anggota komisi kesehatan dan komisi teologis dan juga para wartawan dapat bergerak leluasa, dan terlebih lagi, khalayak ramai dapat mendengar dialog yang terjadi. Para visioner akan memadahkan lagu-lagu pujian atau mendaraskan rosario hingga kedatangan Santa Perawan seperti yang telah diberitahukan sebelumnya kepada mereka. Pada tanggal 15 Agustus 1982, diperkirakan ada sekitar 20.000 orang yang hadir.

Terkadang, pada waktu penampakan terjadi, khalayak ramai juga menyaksikan berbagai fenomena adikodrati seperti mukjizat matahari (serupa di Fatima): matahari menari-nari dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah selama sepuluh menit, matahari sekonyong-konyong lenyap ditelan langit dan digantikan oleh bulan yang kehijau-hijauan; pula bintang-bintang menari dan salib-salib bercahaya di langit.

Di akhir penampakan, Santa Perawan meminta para visioner untuk memberkati khalayak ramai. Para visioner berada dalam keadaan ekstasi; mereka tidak melihat orang banyak, melainkan sebuah taman bunga, sebagian bunga tampak segar sementara yang lainnya layu. Santa Perawan meminta mereka menyirami bunga-bunga itu, sembari menjelaskan bahwa bunga-bunga segar mewakili jiwa-jiwa yang hatinya bertaut pada Tuhan, sedangkan bunga-bunga layu mewakili jiwa-jiwa yang hatinya bertaut pada hal-hal duniawi, khususnya harta.

Meski banyak mukjizat, namun mukjizat terbesar yang terjadi di Kibeho adalah gelombang pertobatan dan doa. Pada akhir tahun 1983, semua penampakan di Kibeho berakhir, terkecuali penampakan kepada Alphonsine yang berakhir pada tanggal 28 November 1989.

Perjalanan Mistik

Alphonsine mengalami fenomena ini pada tanggal 20 dan 21 Maret 1982. Sebelumnya ia telah memberitahukan kepada Suster Direktris dan teman sekelasnya, “Aku akan tampak mati, tapi janganlah takut; jangan kuburkan aku!” Bunda Maria sebelumnya telah mengatakan kepada Alphonsine bahwa ia akan membawanya dalam suatu perjalanan bersamanya; perjalanan ini memakan waktu hingga 18 jam lamanya. Para imam, kaum religius, para perawat, pula para pelayan kesehatan Palang Merah, semuanya dapat melihat Alphonsine tenggelam dalam suatu tidur yang dalam; tubuhnya lurus kaku dan amat berat; mereka tak dapat mengangkat tubuhnya maupun memisahkan kedua tangannya yang terjalin erat. Dalam perjalanan ini, Bunda Maria memperlihatkan kepadanya surga, api penyucian dan neraka.

Fenomena mengesankan lainnya yang terjadi di Kibeho adalah puasa dan hening yang diminta oleh Bunda Maria. Anathalie berpuasa selama 14 hari lamanya - dari tanggal 16 Februari hingga 2 Maret 1983 - dan hanya hidup dari Ekaristi Kudus. Ia sama sekali tidak makan apapun sepanjang delapan hari yang pertama, bahkan setetes air pun tidak. Enam hari berikutnya, ia minum hanya sedikit air. Para anggota komisi kesehatan dan teologis memeriksa dengan cermat di setiap menit. Delapan perawat kesehatan ditugaskan secara bergiliran baik pagi maupun malam sepanjang waktu. Para dokter melakukan beberapa pemeriksaan setiap harinya guna memeriksa keadaan kesehatan Anathalie. Mereka mendapati bahwa tidak ada tanda-tanda dehidrasi, bibirnya tetap basah; ia tidak gemetar seperti yang biasa terjadi pada orang-orang yang kelaparan. Pada hari yang kesebelas dari puasanya, Santa Perawan menampakkan diri kepadanya di bawah panas terik matahari selama 105 menit.

Nubuat dan Peringatan

Salah satu alasan kuat yang membuat otoritas Gereja yang berwenang mengakui penampakan Kibeho sebagai otentik adalah penglihatan akan genosida di Rwanda yang terjadi 12 tahun kemudian. Dalam suatu penampakan pada tahun 1982 yang berlangsung hingga delapan jam lamanya, Bunda Maria memperlihatkan kepada para visioner apa yang akan terjadi di negeri mereka apabila mereka tidak berbalik kepada Allah. “Suatu sungai darah, orang-orang yang saling membunuh satu sama lain, mayat-mayat bergelimpangan tanpa seorang pun menguburkan mereka, pepohonan dilalap api, tubuh-tubuh tanpa kepala.” Mereka menangis dengan begitu pedih dan pilu hingga mengguncangkan hati khalayak ramai yang berkerumun di sana.

Nubuat ini tampaknya tak masuk akal, namun, pada musim semi 1994, pecah suatu perang sipil yang paling tragis serta mengerikan. Para pemimpin kaum Hutu mengorganisir suatu genosida yang sistematik yang merenggut nyawa sekitar 800.000 kaum Tutsi dan kaum Hutu moderat; suatu pembantaian besar-besaran yang sebagian besar dilakukan dengan parang. Orang-orang tak bersalah, termasuk anak-anak, dibantai secara keji. Kamp pengungsian terbesar berada di Kibeho. Pada tanggal 14 April 1994, seluruh suku Tutsi yang bersembunyi di sebuah gereja paroki di sana, sekitar 4.000 orang, tewas oleh granat-granat yang meledak dalam bangunan gereja yang kemudian terbakar hangus. Hanya dalam waktu tiga bulan saja, April hingga Juni 1994, sekitar 1.000.000 orang tewas, sebagian besar dipenggal kepalanya dan tubuhnya dicampakkan ke dalam Sungai Kagea (= sungai darah). Anathalie selamat, Alphonsine juga berhasil selamat walau seluruh keluarganya tewas terbunuh; sementara Uskup Gahamanyi dan Marie Claire termasuk di antara korban tewas dalam perang sipil ini. Di kemudian hari, Alphonsine menjadi seorang biarawati rabiah sementara Anathalie tinggal di Rwanda mengurus tempat ziarah Santa Perawan Maria Berdukacita yang kemudian dibangun di tempat penampakan.

Di Kibeho, Santa Perawan Maria telah memperingatkan kita bahwa seks bebas akan menghantar manusia kepada petaka. Pesan itu dinyatakan sebelum dunia mengenal AIDS, tetapi pada tahun 1994, 70% kasus AIDS sedunia terdapat di Afrika. Sebanyak 25 juta warga Afrika terjangkit penyakit mematikan ini.

Guna menghindari perang dan malapetaka, Bunda sang Sabda mengundang para visioner dan juga seluruh dunia untuk berdoa, berpuasa dan bermatiraga.

Pesan-Pesan Bunda Maria

Inti pesan-pesan Bunda Maria adalah doa dari hati, silih, puasa, tobat, berdoa Rosario, dan persiapan menyambut kedatangan Yesus kembali.

Pesan kepada Marie Claire:

“Aku menaruh perhatian bukan hanya kepada Rwanda atau kepada seluruh Afrika saja. Aku menaruh perhatian kepada, dan berpaling kepada, seluruh dunia. Dunia sedang berada di ambang bencana.”

“Aku datang untuk mempersiapkan jalan bagi Putraku demi kebaikan kalian, dan kalian tidak mau mengerti. Tinggal sedikit saja waktu dan kalian mudah lupa. Kalian terpikat oleh barang-barang dunia ini yang akan binasa. Aku melihat banyak dari antara anak-anakku yang tersesat, dan aku datang untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka.”

“Dunia telah berbalik melawan Allah. Kita harus bertobat dan memohon pengampunan.”

“Betobatlah! Betobatlah! Betobatlah!”
“Tetapi, aku sudah melakukannya.”
“Apabila aku menyampaikan ini kepadamu, aku tidak berbicara hanya kepadamu seorang, melainkan aku berbicara juga kepada semua yang lainnya. Manusia pada masa ini telah mengosongkan segala sesuatu dari maknanya yang sejati; ia yang melakukan kesalahan tidak tahu bahwa ia telah berbuat salah.” (2 April 1982)

“Yang aku minta dari kalian adalah tobat. Apabila kalian mendaraskan kaplet ini (Rosario Tujuh Duka SP Maria), dengan merenungkannya, maka kalian akan mendapatkan kekuatan untuk bertobat. Sekarang ini, banyak orang yang tidak tahu lagi bagaimana memohon pengampunan. Mereka memakukan kembali Putra Allah pada Salib. Sebab itu aku menghendaki datang dan mengingatkannya kembali kepada kalian, khususnya di sini di Rwanda, sebab di sini aku masih mendapati orang-orang sederhana yang tidak terikat pada kekayaan ataupun uang.” (31 Mei 1982)

“Kita patut merenungkan sengsara Yesus dan dukacita mendalam BundaNya. Hendaknyalah kita mendaraskan rosario setiap hari, dan juga Rosario Tujuh Duka SP Maria, demi mendapatkan rahmat tobat.”

Pesan kepada Anathalie:

“Bangunlah, berdirilah! Basuhlah dirimu dan lihatlah dengan seksama. Haruslah kita membaktikan diri dalam doa. Haruslah kita mengembangkan dalam diri kita keutamaan-keutamaan belas kasih, keterbukaan hati dan kerendahan hati.”

“Kembalilah kepada Tuhan, Sumber Air Hidup.”

“Aku berbicara kepada kalian, tetapi kalian tidak mendengarkan aku. Aku hendak mengangkat kalian, tetapi kalian tetap tinggal di bawah. Aku memanggil kalian, tetapi kalian memberiku telinga yang berat mendengar. Bilamanakah kalian akan melakukan apa yang aku minta? Kalian tetap acuh tak acuh terhadap segala permintaanku. Bilakah kalian mau mengerti? Bilamanakah kalian menaruh minat pada apa yang ingin kusampaikan kepada kalian? Aku memberi kalian tanda-tanda, tetapi kalian tetap tidak percaya. Berapa lama lagikah kalian akan menyendengkan telinga yang tuli terhadap permintaanku?” (5 Agustus 1982, keluhan Santa Perawan Maria sehubungan dengan permintaannya untuk mendirikan dua tempat ibadat di tempat penampakan.)

Pesan kepada Alphonsine:

“Aku berbicara kepada kalian yang memegang kekuasaan, dan yang memimpin negara: selamatkanlah rakyat, dan bukannya menjadi penindas mereka. Janganlah merampas dari rakyat; berbagilah dengan yang lain. Berhati-hatilah untuk tidak menganiaya, membungkam mereka yang hendak mengkritik kesalahan kalian. Aku katakan kepada kalian, aku ulangi, apapun yang kalian lakukan, bahkan meski kalian mengusahakan segala daya upaya untuk mencelakai seseorang sebab ia mengasihi sesamanya, membela hak-hak asazi manusia, berjuang demi harkat hidup yang lain, dan demi kebenaran dan segala yang baik, dan bahkan sebab ia berjuang agar Tuhan dikasihi dan dihormati, apapun yang kalian lakukan, kalian tak akan dapat melakukan sesuatupun untuk melawan dia.” (28 November 1989, penampakan terakhir)

“Tak ada yang lebih indah daripada sebentuk hati yang memperembahkan penderitaannya kepada Tuhan. Berdoa, berdoa, berdoalah! Ikutilah Injil Putraku. Janganlah lupa bahwa Tuhan jauh lebih berkuasa dari segala kejahatan di dunia. Berbagilah. Jangan membunuh. Jangan menganiaya. Hormatilah hak-hak manusia, sebab jika kalian bertindak sebaliknya, kalian tidak akan berhasil dan ia akan berbalik melawanmu.”

“Meski aku adalah Bunda Allah, aku rendah hati dan bersahaja. Aku senantiasa menempatkan diriku di tempat kalian. Aku mengasihi kalian apa adanya. Tak pernah aku mencela anak-anakku yang kecil. Apabila seorang kanak-kanak tidak dicela oleh ibundanya, maka ia akan mengatakan kepada ibundanya segala sesuatu yang ada dalam hatinya. Aku bersuka hati apabila anakku bersukacita bersamaku. Sukacita itu merupakan tanda yang paling indah dari kepercayaan dan kasih. Sedikit saja orang yang mengerti misteri kasih Allah. Ijinkanlah aku, sebagai Bunda kalian, memeluk segenap anak-anakku dengan penuh kasih sayang agar kalian boleh mempercayakan kerinduan-kerinduanmu yang terdalam kepadaku. Ketahuilah, bahwa aku menyampaikan segala kerinduan hatimu kepada Putraku, Yesus, Saudara-mu.”

“Aku mengasihi seorang kanak-kanak yang bermain bersamaku, sebab ini merupakan suatu perwujudan nyata yang indah dari kepercayaan dan kasih. Bersikaplah bagai kanak-kanak bersamaku sebab aku juga suka membelaimu. Tak seorang pun takut kepada ibundanya. Aku Bundamu. Janganlah kalian takut kepadaku, melainkan hendaknyalah kalian mengasihi aku.”

“Aku mengasihi, mengasihi, sangat mengasihi kalian. Janganlah pernah lupa akan kasihku kepada kalian sehingga aku datang di antara kalian. Pesan-pesan ini tidak hanya berguna sekarang ini saja, melainkan juga di masa mendatang.” (28 November 1989, penampakan terakhir)

Persetujuan Resmi Gereja

Pada waktu penampakan terjadi, Kibeho adalah bagian dari Keuskupan Butare di bawah kepemimpinan Uskup Jean Baptiste Gahamanyi; sekarang Kibeho adalah bagian dari Keuskupan Gikongoro di bawah kepemimpinan Uskup Augustin Misago.

Menanggapi fenomena penampakan yang terjadi di wilayah keuskupannya, Uskup Gahamanyi segera membentuk dua komisi: komisi teologis dan komisi medis. Kedua komisi ini efektif menjalankan tugasnya sejak April 1982 hingga penampakan Kibeho mendapatkan persetujuan resmi Tahta Suci pada tahun 2001. Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian yang cermat dan seksama oleh kedua komisi, pada tanggal 15 Agustus 1988, Uskup setempat berkeputusan untuk memberikan persetujuan atas devosi publik sehubungan dengan penampakan Kibeho. Uskup Gahamanyi memaklumkan, “Saya sama sekali tak ragu bahwa sesuatu yang adikodrati telah terjadi di Kibeho. Pesan-pesannya benar; orang hendaknya menaruh perhatian.”

Duapuluh tahun berlalu setelah penampakan pertama, dan pada tanggal 29 Juni 2001, Pesta St Petrus dan St Paulus, dalam suatu Misa Kudus yang khidmad di Katedral Gikongoro, Uskup Augustin Misago yang mewakili otoritas yang berwenang, menerbitkan deklarasi resmi mengenai penilaian definitif penampakan di Kibeho, Rwanda. Antara lain beliau memaklumkan, “Ya, Santa Perawan Maria menampakkan diri di Kibeho pada tanggal 28 November 1981, dan pada bulan-bulan berikutnya. Ada lebih banyak alasan untuk percaya pada penampakan-penampakan yang terjadi daripada mengingkarinya. Hanya tiga kesaksian pertama yang dianggap sebagai otentik; yaitu yang kesaksian yang diberikan oleh Alphonsine Mumureke, Anathalie Mukamazimpaka, dan Marie Claire Mukangango.”

Pada tanggal 2 Juli 2001 Tahta Suci memberikan persetujuan akan keotentikan penampakan Kibeho dan menerbitkan laporan lengkap mengenainya dalam koran Vatikan L'Osservatore Romano.

Nama yang diberikan kepada tempat ziarah Bunda Maria di Kibeho adalah `Santa Perawan Maria Berdukacita'; peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 28 November 1992. Dalam deklarasinya, Uskup Gikongoro, Rwanda, memaklumkan:

“Bahwa Kibeho menjadi suatu tempat ziarah dan tempat perjumpaan bagi segenap mereka yang mencari Kristus dan yang datang ke sana untuk berdoa, suatu pusat fundamental dari pertobatan, silih atas dosa-dosa dunia dan rekonsiliasi, suatu tempat pertemuan bagi `mereka semua yang tercerai-berai', pula bagi mereka yang merindukan nilai-nilai kasih dan persaudaraan tanpa batas, suatu pusat fundamental yang mengingatkan orang akan Injil Salib.”

sumber : 1. “Messages of Our Lady of Sorrows in Kibeho, Rwanda by Thérèse Tardif”; Michael Journal; www.michaeljournal.org; 2. “Rwanda The Visions of Life and Death”; www.mrosa.szm.sk/341998/angl/; 3. berbagai sumber

Tidak ada komentar: